Inflasi Sulut Maret 2026 Terkendali, Terendah di Regional Sulawesi

Rendahnya inflasi di Sulawesi Utara dinilai menjadi indikator bahwa harga kebutuhan pokok di daerah relatif terkendali, meski tekanan ekonomi global dan nasional masih berlangsung.

MANADOUPDATE.COM-Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mencatat capaian positif dalam menjaga stabilitas harga sepanjang Maret 2026. Di bawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus, Sulawesi Utara berhasil menekan laju inflasi hingga menjadi yang terendah di kawasan Sulawesi.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 1 April 2026 menunjukkan, inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) Sulawesi Utara berada di angka 2,20 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan sejumlah provinsi lain di Sulawesi, seperti Sulawesi Barat yang mencatat inflasi 2,94 persen dan Sulawesi Tenggara sebesar 5,41 persen.

Selain inflasi tahunan yang rendah, inflasi bulanan atau month-to-month (m-to-m) Sulawesi Utara pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,25 persen. Angka itu juga berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 0,41 persen. Secara nasional, inflasi tahunan Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,48 persen.

Rendahnya inflasi di Sulawesi Utara dinilai menjadi indikator bahwa harga kebutuhan pokok di daerah relatif terkendali, meski tekanan ekonomi global dan nasional masih berlangsung.

Secara nasional, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar inflasi pada Maret 2026. Komoditas seperti ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, dan cabai rawit menjadi faktor utama pendorong kenaikan harga. Namun, tekanan tersebut dapat ditekan di Sulawesi Utara berkat terjaganya pasokan dan distribusi bahan pangan.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara disebut terus memperkuat koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Pemantauan harga dilakukan secara berkala, terutama menjelang hari besar keagamaan dan periode meningkatnya konsumsi masyarakat.

Selain itu, pemerintah daerah juga memastikan distribusi logistik berjalan lancar hingga ke pasar-pasar tradisional. Langkah ini dilakukan agar pasokan bahan pokok tetap tersedia dan tidak memicu lonjakan harga.

Faktor lain yang ikut menahan laju inflasi adalah kebijakan stimulus ekonomi dari pemerintah pusat, terutama insentif di sektor transportasi. Penurunan tarif angkutan laut dan transportasi lainnya membantu menekan biaya distribusi barang, sehingga harga di tingkat konsumen tetap stabil.

Keberhasilan menjaga inflasi di level 2,20 persen memperlihatkan sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat berjalan efektif. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara pun berkomitmen mempertahankan tren positif tersebut guna menjaga daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih merata.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *