MANADOUPDATE.COM — Sulawesi Utara kembali membuktikan kualitas sumber daya manusianya di tingkat nasional.
Kali ini, prestasi datang dari sektor kesehatan, di mana tenaga kesehatan (nakes) daerah tidak hanya berperan dalam memberikan pelayanan medis, tetapi juga mampu melahirkan riset dan inovasi yang berpotensi mendorong kemajuan sistem kesehatan Indonesia.
Sosok tersebut adalah Melchy W. Tampinongkol, SST, M.Si, tenaga kesehatan di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara yang menjadi satu-satunya perwakilan Sulut dalam ajang Presentasi Oral Riset Ilmiah Integrasi Layanan Primer (ILP) pada Leimena Conference 2026.

Leimena Conference 2026 sendiri diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada 27-29 Juli 2026 mendatang.
Kepercayaan itu menjadi bukti bahwa inovasi yang lahir dari Sulawesi Utara mampu bersaing dengan ratusan karya ilmiah dari akademisi, dokter, dosen hingga peneliti dari seluruh Indonesia.
Melchy menjelaskan, riset yang dibawanya lahir dari implementasi program Transformasi Kesehatan yang tengah dijalankan Kementerian Kesehatan, khususnya pada penguatan layanan primer di Puskesmas.
Menurutnya, tujuan utama transformasi tersebut adalah mendeteksi penyakit sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan biaya pelayanan kesehatan dapat ditekan sebelum pasien harus dirujuk ke rumah sakit.
”Penguatan layanan primer menjadi sangat penting agar penyakit bisa terdeteksi lebih awal dan lebih mudah diobati. Karena itu saya diberi tanggung jawab mengelola program ILP di Sulawesi Utara dimana data jumlah Puskesmas ILP di Sulut sdh 160 atau 79% dari 203 Puskesmas,” ujar Melchy.
Melalui penelitian yang melibatkan 135 dari 203 Puskesmas di Sulawesi Utara, Melchy mengkaji hubungan antara beban kerja, insentif, dan kolaborasi interpersonal tenaga kesehatan.
Hasil riset menunjukkan adanya keterkaitan yang signifikan antara tingginya beban kerja dan pemberian insentif terhadap kinerja tenaga kesehatan.
Menurutnya, ketidakseimbangan antara beban kerja dan jumlah SDM berpotensi menimbulkan kondisi ‘burnout’, yang pada akhirnya berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan kepada masyarakat.
”Hasil penelitian ini saya harapkan dapat menjadi salah satu masukan bagi pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat Puskesmas,” jelasnya.
Persaingan dalam ajang tersebut pun tidak mudah. Sekitar 800 karya ilmiah dari berbagai daerah di Indonesia diajukan oleh peserta yang berasal dari perguruan tinggi, dokter, dosen hingga tenaga kesehatan.
Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 500 karya yang dinyatakan lolos, dan dari daftar peserta asal Sulawesi Utara, Melchy menjadi satu-satunya yang berhasil menembus tahap presentasi ilmiah.
Leimena Conference sendiri merupakan kegiatan yang digelar Kementerian Kesehatan untuk mengenang Menteri Kesehatan pertama RI, Dr. Johannes Leimena, sekaligus menghimpun berbagai inovasi dan hasil riset sebagai bahan penyusunan kebijakan penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP).
Seluruh abstrak yang lolos akan dipublikasikan sebagai jurnal ilmiah dan menjadi referensi bagi pemerintah pusat maupun daerah dalam pengembangan layanan kesehatan.
Bagi Melchy, kesempatan ini bukan sekadar mengikuti konferensi nasional, tetapi membawa nama Sulawesi Utara sekaligus memperlihatkan bahwa tenaga kesehatan daerah mampu menghasilkan riset yang memberikan solusi nyata bagi dunia medis.
Prestasi tersebut juga melengkapi rekam jejaknya sebagai Tenaga Kesehatan Teladan Nasional Tahun 2017, yang saat itu memperoleh penghargaan langsung dari Presiden Republik Indonesia di Istana Negara.
Melchy berharap hasil penelitiannya dapat dipublikasikan dan menjadi dasar penyusunan kebijakan kesehatan di masa mendatang.
Ia juga menegaskan bahwa inovasi yang dilakukan merupakan bentuk nyata pelaksanaan arahan Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling (YSK) agar setiap aparatur sipil negara terus berinisiatif dan berinovasi sesuai bidang tugasnya.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa tenaga kesehatan Sulawesi Utara tidak hanya unggul dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi berbasis riset yang berpotensi memperkuat pelayanan medis, meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, serta mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.(**)













