MANADOUPDATE.COM-Pada kanvas karya maestro multitalenta ini, tapak tangan hadir bukan sekadar jejak fisik, melainkan arsip kehidupan penanda eksistensi manusia yang pernah hadir, berjuang, dan bermakna.
Jejak-jejak hijau yang tercetak spontan di atas permukaan kanvas tampak seperti kesaksian langsung dari tubuh dan jiwa manusia menyentuh dunia, dan dunia membalas sentuhan itu dengan peristiwa.
Latar warna yang berlapis merah membara, biru yang dalam, hijau pekat, kuning menyala, dan hitam yang menyelimuti mencerminkan fase-fase kehidupan,
kelahiran yang penuh energi, perjalanan yang penuh benturan, konflik, doa, kegagalan, harapan, hingga pencarian makna terdalam.
Sapuan cat yang mengalir, menetes, dan saling menindih menegaskan bahwa hidup tidak pernah linier; ia bergerak liar, kadang kacau, namun sarat tujuan ilahi.
Tapak-tapak tangan hijau muncul seperti jejak ruhani simbol kehidupan, kesuburan, dan rahmat.
Ia seakan melayang di antara lapisan warna yang bergolak, menandakan bahwa tidak semua tapak lahir dari kekuatan ego, tetapi dari keterhubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Di tengah kegaduhan duniawi, tapak ini menjadi tanda bahwa ada kuasa yang menuntun arah langkah manusia.
Garis-garis hitam dan percikan gelap yang bersilang menyerupai rintangan, luka, dan dosa, namun tidak meniadakan cahaya. Justru dari lapisan inilah muncul dinamika spiritual: bahwa makna hidup tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari keberanian meninggalkan jejak meski terluka.
Melalui karya ini, Liem Sian An (Sam Sianata) tidak hanya menghadirkan lukisan, tetapi sebuah pernyataan eksistensial,
bahwa manusia hidup untuk meninggalkan tapak dan ketika tapak itu diselaraskan dengan Tapak Sang Ilahi, ia akan berubah dari jejak sementara menjadi warisan yang abadi.
Sebagai bagian dari konsep Trinity Art lukisan, lagu, dan maskot TAPAK karya ini menjadi satu kesatuan spiritual, visual, dan simbolik.
TAPAK bukan untuk ditonton semata, melainkan untuk direnungi, karena di dalamnya tersimpan pertanyaan paling mendasar:
Tapak apakah yang akan kita tinggalkan di dunia ini?












