MANADOUPDATE,COM-Konsistensi Prof Trina Ekawati Tallei dalam dunia penelitian kembali mendapat pengakuan internasional.
Akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) tersebut kembali tercatat dalam daftar World’s Top 2 Persen Scientists 2026.
Pengakuan ini menjadi capaian tersendiri bagi Prof Trina karena berhasil dipertahankan selama empat tahun berturut-turut, sejak 2023 hingga 2026.
Daftar ilmuwan tersebut disusun oleh tim peneliti yang dipimpin Prof John P.A. Ioannidis dari Stanford University dengan menggunakan basis data Elsevier Scopus.
Edisi terbaru World’s Top 2 Persen Scientists dirilis pada 7 Oktober 2026 dan menjadi pembaruan kesembilan dari basis data ilmuwan tersebut.
Pemeringkatan ini mencakup berbagai bidang keilmuan dengan penilaian berdasarkan sejumlah indikator bibliometrik, di antaranya dampak sitasi publikasi, h-index, serta indikator yang memperhitungkan posisi kepengarangan dalam publikasi ilmiah.
Penilaian dilakukan berdasarkan dampak publikasi sepanjang karier maupun dalam periode satu tahun tertentu.
Bagi Prof Trina, capaian tersebut bukan hanya sebuah penghargaan personal, tetapi juga hasil dari proses panjang dalam menjalankan penelitian bersama berbagai pihak.
“Pertama-tama, tentu saya merasa sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bisa kembali masuk dalam daftar World’s Top 2 persen Scientists selama empat tahun berturut-turut merupakan suatu kehormatan sekaligus kebahagiaan tersendiri bagi saya,” ujar Prof Trina saat dihubungi Tribun Manado, Kamis (8/10/2026).
Ia mengatakan, setiap publikasi ilmiah yang dihasilkan tidak terlepas dari kerja keras, kolaborasi dan dukungan banyak pihak.
“Di balik setiap publikasi ilmiah, ada kerja keras, proses panjang, kolaborasi, serta dukungan dari banyak pihak, termasuk rekan-rekan peneliti, mahasiswa, institusi, dan mitra kolaborasi dari dalam maupun luar negeri,” katanya.
Prof Trina dikenal aktif melakukan penelitian di sejumlah bidang, mulai dari biologi molekuler, bioteknologi dan bioinformatika hingga pemanfaatan teknologi komputasional untuk penelitian kesehatan.
Penelitiannya antara lain berfokus pada eksplorasi senyawa bioaktif dari bahan alam, pengembangan kandidat obat, desain vaksin berbasis pendekatan imunoinformatika, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dalam penemuan dan pengembangan kandidat terapeutik.
Dalam penelitian tersebut, ia memadukan pendekatan komputasional dengan pengujian eksperimental untuk mengeksplorasi potensi berbagai sumber daya hayati.
Menurut Prof Trina, pendekatan tersebut membuka peluang untuk mengembangkan produk kesehatan berbasis kekayaan biodiversitas Indonesia.
Selain itu, riset yang dilakukan juga mendorong terbentuknya kolaborasi penelitian lintas disiplin dan lintas negara.
“Bagi saya, pengakuan ini juga menjadi pengingat bahwa seorang ilmuwan tidak boleh berhenti belajar, berkarya, dan mengembangkan diri. Dunia ilmu pengetahuan terus berkembang, sehingga kita harus selalu berusaha memberikan kontribusi yang lebih baik,” tandasnya.
Ia pun mengaku bangga dapat membawa nama Universitas Sam Ratulangi dan Sulawesi Utara ke komunitas ilmiah internasional.
“Saya juga merasa bangga dapat membawa nama Universitas Sam Ratulangi dan Sulawesi Utara dalam komunitas ilmiah internasional. Ini menunjukkan bahwa peneliti dari Indonesia Timur memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia,” tuturnya.
Meski telah empat kali berturut-turut masuk dalam daftar tersebut, Prof Trina menegaskan bahwa mempertahankan posisi dalam World’s Top 2 Persen Scientists bukanlah tujuan utamanya.
Ia justru berharap penelitian yang dilakukan bersama tim dapat memberikan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat.
“Ke depan, harapan saya bukan sekadar mempertahankan posisi dalam daftar tersebut, melainkan bagaimana hasil penelitian yang kami lakukan dapat memberikan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat,” katanya.
Prof Trina mengatakan, riset yang selama ini dikembangkan mencakup bioteknologi, bioinformatika, penemuan kandidat obat berbasis bahan alam, serta pengembangan kandidat vaksin dan pendekatan terapeutik dengan memanfaatkan teknologi komputasional dan kecerdasan buatan.
Ia berharap penelitian tersebut dapat terus diarahkan ke tahap yang lebih aplikatif dan translasional.
“Saya ingin terus mengembangkan penelitian-penelitian tersebut ke arah yang lebih aplikatif dan translasional, sehingga hasilnya tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi secara bertahap dapat dikembangkan menjadi inovasi, teknologi, atau produk yang berpotensi memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan kesehatan,” jelasnya.
Menurutnya, Indonesia, termasuk Sulawesi Utara, memiliki kekayaan biodiversitas yang besar dan masih memiliki peluang untuk dikembangkan melalui pendekatan ilmiah modern.
“Saya berharap sumber daya hayati ini dapat terus dieksplorasi melalui pendekatan ilmiah modern untuk menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang memiliki nilai tambah,” katanya.
Selain pengembangan penelitian, Prof Trina juga menaruh perhatian terhadap regenerasi peneliti.
Ia ingin turut mendorong lahirnya generasi peneliti muda yang memiliki integritas ilmiah, mampu berpikir kritis dan berani bersaing di tingkat internasional.
“Saya percaya keberhasilan seorang akademisi tidak hanya diukur dari jumlah publikasi atau penghargaan yang diperoleh, tetapi juga dari seberapa besar kontribusinya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, membimbing generasi berikutnya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Prof Trina, pengakuan internasional yang diperolehnya harus menjadi dorongan untuk terus menghasilkan penelitian yang memiliki manfaat lebih luas.
“Bagi saya, pengakuan internasional bukanlah tujuan akhir, melainkan motivasi untuk terus berkarya dan memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang kita hasilkan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.













